Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2016

Kisah Sukses Nelayan Sendang Biru Malang Jadi Pengusaha

Pantang menyerah dan berani menghadapi tantangan menjadi pegangan hidup Sih Budi Hari, 48 tahun, nelayan Tamban Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Dia memulai bekerja di laut sejak berusia 14 tahun. Saat anak sepantaran tengah bersekolah, Budi telah mengarungi laut selatan yang dikenal berombak ganas. Berbekal perahu bermesin tempel, Budi memburu aneka jenis ikan tangkap seperti ikan tengiri, kerapu, gutita dan lobster.

Faktor kemiskinan yang memaksa Budi menjadi nelayan. Orang tuanya bekerja sebagai petani tak mampu membiayai pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Karena rumaah dekat dengan pantai Tamban, dia akrab dengan para nelayan. Menjadi nelayan dianggap pekerjaan yang paling mudah untuk mencari uang, meski risiko dan tantangannya besar. 

Laut di ujung Pacitan sampai Banyuwangi di Jawa Timur telah diarunginya. Bekerja mulai malam sampai siang hari, Budi telah mengunjungi seluruh pelabuhan ikan di Jawa Timur. Tak puas hanya menjadi nelayan, Budi tertantang untuk memasarkan sendiri ikan hasil tangkapannya. Saat itu, ikan dibeli melalui tengkulak dengan harga murah yang merugikan nelayan.

Setelah membangun jaringan, pada 1983 Budi mendapat jalan memasok lobster ke seorang penguasaha di Surabaya. Saat itu harga lobster sekitar Rp 6 ribu per kilogram, dia mengumpulkan sebanyak satu ton lobster dari nelayan. Tak disangka, sang pengusaha melarikan diri. Sedangkan Budi harus tetap membayar untuk menjaga kepercayaan para nelayan.

Kisah Sukses Nelayan Sendang Biru Malang Jadi Pengusaha
img by TEMPO/Eko Widianto
Budi lalu mengajukan pinjaman Rp 6 juta ke kantor perbankan sejauh 10 kilometer dari rumahnya. Lahan sawah satu-satunya milik orang tuanya dijadikan anggunan. Seluruh uang pinjaman digunakan membayar penjualan lobster nelayan. Budi kembali mencari pembeli yang bisa dipercaya. Hingga bertemu dengan pengusaha asal Taiwan yang justru memberi pinjaman Rp 300 ribu untuk membuat kolam penampungan lobster.

Kolam penampungan dan instalasi pengemasan lobster disediakan untuk menjamin pasokan lobster tetap segar sampai ke tangan pembeli. Lobster dikirim ke Hong Kong dan Singapura melalui Denpasar. 

Lobster dipilih berdasarkan berat minimal seberat 200 gram per ekor. Terberat seekor lobster mencapai satu kilogram. Usaha ekspor lobster melalui UD Lancar yang dikelolanya berjalan lancar. Setahun lalu saat musim lobster, dalam sehari dia menghabiskan uang Rp 150 juta untuk membeli lobster tangkapan nelayan. Harga lobster Rp 600 ribu sampai Rp 1 juta per kilogram disesuaikan dengan ukuran dan kualitas.

Dulu setiap pekan tiga kali pengiriman, masing-masing 400 kilogram. Namun, saat musim paceklik ini selama sebulan tak banyak lobster berkualitas yang bisa dikirim. Akibatnyam sebagian lobster ditempatkan di kolam penampungan sambil menunggu tangkapan para nelayan.

Sementara itu gurita dipasok ke sebuah pabrik pengalengan di Surabaya. Gurita dijual seharga Rp 27 ribu sampai 45 ribu per kilogram tergantung kualitas. Saat cuaca bagus, sehari bisa mengirim sekitar dua ton gurita. Namun, saat gelombang tinggi hingga empat meter seperti sekarang, tak banyak pasokan gurita sehingga pasokan gurita pun terhambat.

Kini, para nelayan memilih berdiam diri di rumah memperbaiki jaring dan alat tangkap. Sebagian bekerja sebagai kuli bangunan atau buruh tani. Sebagian lahan di sekitar Tambakrejo merupakan area pertanian subur. Sehingga banyak nelayan yang alih pekerjaan menjadi buruh tani. Total jumlah nelayan di Tamban sebanyak 180 nelayan dengan jumlah kapal sebanyak 100 buah.

Adapun Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang Indra Krisna mengaku tengah memberikan pendidikan literasi keuangan kepada para nelayan. Mereka diajak untuk membuka rekening tabungan dan menabung  sebagian uang hasil penjualan ikan. Sedangkan saat musim paceklik uang tersebut bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maupun biaya pendidikan anak.

Indra juga mendorong sebagian nelayan membuka program layanan laku pandai. Dengan demikian, nasabah tak harus ke kantor perbankan tapi bisa ke kios atau warung yang bekerjasaam dengan perbankan. Termasuk memanfaatkan program Jaring berupa kredit khusus untuk sektor perikanan, meliputi perikanan tangkap maupun budidaya. 

Sebanyak delapan perbankan telah bekerjasama untuk menyalurkan kredit ke nelayan. Namun perbankan juga menghitung resiko dan pengembalian daya yang dihimpun dari masyarakat tersebut.

Manajer Kredit Mikro BRI Wilayah Malang, Nanang Setiadi menjelaskan telah bekerjasama dengan sejumlah nelayan. Program laku pandai dibuka di sejumlah perkampungan nelayan seperti di Tamban dan Sendang Biru Kabupaten Malang. Harapannya, tak hanya Budi tetapi nelayan lainnya juga bisa berkembang usahanya. Bahkan melampaui Budi yang setiap hari omzetnya mencapai Rp 150 juta. 

Sumber : bisnis.tempo.co

Selasa, 15 November 2016

INSPIRASI : Friedman Foote Yang Dulunya Miliuner Kini Menjadi Gelandangan

Kisah sedih dari pasangan Marriane Friedman Foote dan Frank, sepasang gelandangan yang tidur di taman Central Park sejak bulan Agustus tahun ini. Di masa mudanya, hidup Friedman seperti kisah dongeng saja. Dirinya adalah pewaris sebuah perusahaan tekstil terbesar di Manhattan pada zamannya, yaitu Insidor Kaplan. Keluarganya mempunyai apartemen seluas 4000 Hektar dengan konsep art deco, yang bernilai lebih dari 131 Miliar. Meski lulusan Keperawatan dari Boston University, kerja keras mencari uang tidak ia lakukan. Sebab dalam hidup Friedman muda, uang datang dengan sendirinya.

Namun semuanya berubah ketika kakeknya meninggal dunia. Ibunya yang depresi menjual warisan kakeknya yang bernilai jutaan Dollar. Setelah ibunya meninggal, Friedman menjual apartemen senilai 131 Miliar itu dengan harga 40 Miliar saja. Hasilnya dia bagi dua dengan adiknya, sebesar 40 Miliar. Pernikahan pertamanya dengan seorang anggota FBI berantakan. Mantan suaminya membawa sang putri yang baru berusia 3 tahun. Kehilangan anak ini membuat Friedman depresi dan akhirnya menjadi pecandu obat-obatan terlarang. Pernikahan keduanya dengan Frank yang seorang pegawai kontruksi sedikit memperbaiki hidupmua. Sayang malang terus berdatangan. Rumah mewah di Amityville, Long Island, yang dibeli pasangan ini hilang dari genggaman saat Amerika mengalami resesi.

“Kami menghambur-hamburkan uang ibuku seperti orang gila,” kata Friedman dilansir dari Dailymail.

Karena kesalahan di masa muda, kekayaan itu kini hanya tinggal kenangan. Sang pewaris takhta perusahaan kini menjadi gelandangan di usianya yang sudah 63. Harapan hidup tenang dan berkecukupan di usia tua terpaksa dilupakan. Apa yang dialami oleh Friedman ini barangkali sering pula kita alami. Uang berlebih sering membuat lupa diri. Hingga akhirnya, yang tertinggal hanya penyesalan.

KISAH SEDIH : Friedman Foote Yang Dulunya Miliuner Kini Menjadi Gelandangan


1. Pepatah hidup itu seperti roda berputar

Hidup yang terus berputar, bisa membawamu ke atas ataupun ke bawah. Ketidakpastian hidup membuat apa yang kamu punya saat ini belum tentu abadi. Karenanya, selayaknya kita menghargai dan mensyukuri setiap momen bahagia yang dialami. Karena bukan mustahil itu akan diambil darimu, sewaktu-waktu.

2. Penyesalan datang belakangan akibat kecerobohan

Usia yang masih muda memang sering membuat kesalahan, dalam konteks mengejar impian. Namun kecerobohan dalam hidup karena harta, bisa membuatmu menyesal nantinya. Sebab hidup ini hanya satu hali. Apa yang sudah pergi, tak bisa kamu panggil kembali. Uang yang sudah kamu habiskan untuk bersenang-senang, tak bisa kembali, melainkan harus dicari lewat kerja yang lebih keras lagi.

3. Harta memang sering membuat kita lupa. 

Bonus yang tak mesti muncul sebulan sekali membuat kita lupa diri. Apalagi kalau gaji sudah mengalami peningkatan dan kamu masih belum punya tanggungan. Setiap tanggal gajian tiba, kamu merasa harus bersenang – senang.

Tapi ingat, ada masa – masa darurat diluar rencana. Mempertahankan pola hidup sederhana sebanyak apapun gaji yang kamu punya tetap menjadi pilihan yang bijaksana. Karena, apa kamu bisa pastikan sampai kapan transferan bulanan itu masuk ke rekeningmu?

4. Selain harta, cinta menjadi salah satu yang membuat Anda bahagia

Dari kisah Friedman Foote kita bisa belajar banyak hal. Harta dan kekayaan bukan jaminan kebahagiaan. Ada hal-hal lain yang juga harus dipikirkan selain bekerja keras mencari uang yakni Keluarga, waktu untuk diri sendiri, dan barangkali cinta, adalah pelengkap hidup yang membahagiakan hidup Anda. Karena saat sakitpun, ternyata kamu tidak hanya butuh uang untuk berobat, tapi juga sosok yang tak absen memberi semangat.

5. Ingat hidup bukan hanya hari ini

Ingatlah bahwa hari esok, kamu masih butuh makanan sehat dan tempat tinggal yang layak. Di hari tua, tentu kamu juga ingin hidup tenang dan nyaman dengan keluarga. Jangan sampai masa-masa yang di depan itu terlupakan karena kita terlalu sibuk menghabiskan stok bahagia yang kita punya untuk saat ini saja.

6.  Saat mengalami masa sulit paling tidak mereka masih memiliki satu sama lain

Meski Friedman sudah kehilangan segalanya. Setidaknya ada Frank, suaminya, yang rela berbagi tempat tidur dengan atap bintang-bintang di Central Park. Ada orang yang sama-sama kelaparan saat makanan sudah tidak lagi ada. Setidaknya, Frank yang bertemu dengannya dalam kondisi kaya raya, tidak pergi setelah uangnya habis. Cinta mereka tidak pudar karena sulitnya kondisi. Meski tidak tahu bagaimana rasanya menjadi mereka, setidaknya kita bisa berharap bahwa sulitnya hidup mereka berkurang karena dijalani bersama orang yang dikasihi.

Hidup seperti roda itu benar adanya. Kisah hidup Friedman Foote ini seharusnya bisa dijadikan pengingat, agar kita selalu hati-hati dalam berbuat. Karena apa yang sudah lewat, hanya akan tingaal kenangan. (Sumber Artikel by Laruno.com)

Senin, 14 November 2016

INSPIRASI BISNIS: Celengan dari Limbah Karton Beromzet Jutaan Rupiah

Seorang ibu-ibu di kelurahan Sukamaju kecamatan Sako kota Palembang, memiliki trik jitu agar membuat anak-anak gemar menabung, dirinya membuat celengan yang unik dari daur ulang karton bekas dan stiker animasi yang akrab dengan anak-anak. Bahkan hasil penjualan celengannya beromzet jutaan Rupiah per bulan. Di sebuah rumah sederhana di kompleks Griya Permata Hati Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sako, Palembang inilah, Rani Hartanti seorang ibu rumah tangga empat orang anak, menekuni usahanya membuat celengan berbahan karton bekas dari sisa limbah percetakan. 

Dibantu satu orang tetangganya, Rani terlihat begitu serius membuat celengan dari bahan karton yang dipadukan dengan stiker animasi untuk dibuat menjadi celengan yang unik. Dengan mendapat dukung dari sang suami Sopianto yang ikut terjun menggeluti usaha produksi celengan dari bahan bekas karton limbah percetakan, yang sudah menggeluti usahanya ini selama 4 tahun terakhir. Biasanya karton limbah percetakan ini mereka peroleh dari sejumlah percetakan yang ada di kota Palembang. “Timbulnya keinginan membuat celengan dari limbah percetakan bermula saat adanya kegiatan enterpreneur di sekolah anak, yang melatih anak untuk berwirausaha,” ujar Rani. Anaknya meminta agar dibuatkan produk yang berbeda dari produk yang ada kebanyakan, dari sebuah perjalanan mereka melihat banyaknya karton percetakan yang dibuang begitu saja dari sebuah percetakan. 

Muncullah ide Hartanti untuk membuat celengan dari slongsong limbah percetakan. Yang kemudian dipotong sesuai keinginannya. Untuk menarik minat anak-anak agar gemar menabung dikombinasikanlah stiker-stiker pilihan yang berkarakter dipergunakan untuk membungkus karton tersebut. Bahkan para pembeli dapat memesan stikernya sendiri untuk dijadikan bungkus celengan. Harga yang ditawarkan pun variatif murah dan terjangkau, untuk harga satuan celengan ini di jual dengan harga Rp10 ribu, sementara untuk reseller dijual Rp7 ribu per satuannya. Untuk memasarkan hasil kerajinan celengan dari bahan limbah bekas percetakan, Rani membuka gerai sendiri di rumahnya, bahkan terkadang dirinya kerap membuka stand-stand pada acara tertentu. Sumber Artikel Dicopy dari economy.okezone.com

10 Pengusaha Wanita Indonesia

Pengusaha adalah orang yang menjalankan kegiatan usaha baik usaha jual-beli, maupun usaha produksi yang tujuan utamanya adalah mendapatkan keuntungan dan menanggung resiko yang akan terjadi dalam kegiatan usahanya. Contohnya seperti Pengusaha Tahu dan Tempe. Siapa bilang jadi wanita tak bisa sukses mengurus rumah tangga sekaligus bisnis? Buktinya, 10 wanita berikut ini mampu mengibarkan bendera bisnis dan membahagiakan keluarganya. Siapa sajakah mereka?

Nadia Mutia, Kloom Clogs
Hobby belanja wanita ternyata bisa juga menghasilkan uang. Adalah Nadia Mutia Rahma, sosok wanita yang mengawali bisnis dengan membuat sepatu kayu yang diberi nama Kloom Clogs. Desain produk miliknya, dibuat sendiri karena kegemarannya dalam mendesain sejak kecil.

Modal usaha yang dipakainya diperoleh ketika bekerja part time di Jepang, berbekal uang tersebut ia mengembangkan bisnis selop yang pas dan nyaman dipakai. Selain kreatif, wanita kelahiran 12 Juni 1989 ini selalu mengungkulkan kualitas dalam produk yang dibuatnya. Semua bahan yang dipakainya merupakan bahan pilihan dan dikerjakan dengan hati-hati.

Lusia Efriani, Arang Kelapa
Karena alam telah menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Begitulah setidaknya sosok lulusan Bahasa Inggris Universitas Airlangga ini berpikir kreatif. Lewat limbah tempurung kelapa yang mudah ditemukan di mana-mana, Lusia memandatangani kerja sama dengan perusahaan China untuk menjadi pemasok arang kelapa.
10 Pengusaha Wanita Indonesia


Kedengarannya memang bisnis ini sepele, namun permintaan arang kelapa yang semakin meningkat ini membuka lapangan pekerjaan baru bagi 300.000 orang.

Aldila Rizqi Eistya, dari Cardigan hingga Jumpsuit
Dan lagi-lagi hobby shopping yang dapat dikembangkan menjadi bisnis menjanjikan, Aldila, wanita berusia 22 tahun ini tampaknya cukup cermat menilai kebutuhan pasar. Dengan menjual koleksi busana muslim dan baju-baju remaja bermerek Back to Basic, Aldila meraup untung yang cukup besar.

Produknya ini bukan produk hasil luar, namun produk yang dibuat bersama saudaranya Rilla Hayatun Nifa. Masing-masing produknya dijual mulai harga 200 - 400 ribu rupiah di butik House of Dina di jalan Gejayan, Yogyakarta.

Leni Mangiri, perca batik
Ushaa batik mungkin bukan usaha yang asing lagi di Indonesia. Namun, yang membedakan kali ini adalah, kain batik yang dipakai bukan kain batik utuh, melainkan perca batik. Hasil limbah dari potongan-potongan kain batik ini disulap menjadi aneka produk cantik seperti tas, selimut, sarung bantal, bedcover dan lain-lain. Keuntungannya, produk yang dihasilkan tetap cantik dan harga jualnya jauh lebih murah.

Susanti Alie, saus sambal
Sambal, hmmm... rasanya makanan tak lengkap apabila tak ada sambal. Rasa pedasnya bak menyempurnakan masakan dan menambah nafsu makan. Dari situlah Susanti Alie memulai bisnisnya. Berawal dari lahan kontrakan di sebelah rumah dengan kurang dari 10 karyawan, ia memproduksi minuman limun dan saus sambal bermerk Cabe Payung. Berperang melawan rumor saus sambal yang menggunakan bahan-bahan tidak higienis dan segar, Susan menciptakan label produk yang berkualitas dan bersaing dengan harga pasar. Sampai saat ini, bisnisnya terus berkembang dan telah dipasarkan hampir ke seluruh Indonesia. [quote]

Wendy Yap, Sari Roti
Sari Roti... roti Sari Roti... siapa yang tak mengenal jingle renyah tersebut? Di komplek perumahan, toko hingga supermarket besar, produk ini mudah ditemukan. Di balik kesuksesan produk roti ini, ada sosok wanita bernama Wendy Yap yang menjadi otak sukses produk Sari Roti. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan tercepat di Asia.

Ir. Hartati Marzuki, bisnis tanaman hias
Ketertarikan dan kecintaannya terhadap bunga memunculkan ide membuat bisnis tanaman. Aktivitas memelihara dan merawat tanaman ini merupakan aktivitas yang menyenangkan. Selain memberikan efek rileks, manfaatnya bagi alam juga cukup besar.

Dengan dukungan teman dan sahabatnya, Hartati akhirnya membuka bisnis tanaman hias. Produk hasil pembiakannya dipasarkan melalui sebuah toko yang diberi nama Re & Ray Nursery.

Evi Indrawanti, gula aren organik
Ingin menghadirkan gula aren yang lebih praktis dan higienis, Evi Indrawanti menciptakan produk gula aren organik yang memiliki kandungan gizi tinggi, serta higienis. Hingga saat ini, produk gula aren tidak terlalu beken di pasar. Padahal, gula aren ini lebih kaya nutrisi ketimbang gula tebu. Lewat CV Diva Maju Bersama, Evi memasarkan produk gulanya dan membagikan info sehat yang dibutuhkan masyarakat.

Susan Budiharjo, ibu dunia fashion Indonesia
Kerap dijuluki ibu dunia fashion Indonesia, Susan Budiharjo menelurkan karya-karya cemerlang lewat produk fashion yang dibuatnya. Koleksi busananya beragam, mulai dari yang klasik hingga yang sederhana.

Sejak kecil, kegemarannya menggambar mendorongnya mewujudkan mimpi menjadi sosok desainer terkenal di dunia. Tak hanya puas sebagai seorang desainer saja, Susan yang sempat mencicipi jurusan arsitektus di Universitas Tarumanegara ini juga mendirikan sebuah sekolah untuk membagikan ilmu yang dimilikinya kepada desainer-desainer muda Indonesia.

Dyah Purana, Kane Kane
Ingin menciptakan camilan yang sehat, tanpa bahan pengawet dan non MSG, mendorong sosok warga Malang ini menghasilkan produk keripik jamur tiram dan jamur tempe.

Dyah bereksperimen dengan penganan yang beken di kota asalnya tersebut. Dari hasil eksperimennya, tak hanya keripik jamur tiram dan keripik tempe biasa yang dihasilkannya, namun keripik dengan aneka ragam rasa yang menggugah selera. Kecintaaanya terhadap kota Malang mengawali pembuatan nama Kane Kane. Dengan ide awal kata enak yang dikemas dengan boso walikan khas Malang, nama Kane Kane dibuat. (Artikel diCopy dari Vemale.com)

Sabtu, 29 Oktober 2016

KISAH SUKSES : Tubagus Fiki Chikara Satari, Miliuner Distro Asal Kota Bandung

Sebagai kota yang dikenal terdepan dalam industri kreatif, industri clothing dan distro sudah lama menjadi wajah penting dari Kota Bandung. Sampai kini, bisnis clothing dan distro berkembang dengan pesat dan menarik banyak wisatawan, termasuk dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan dan Bekasi (Jabodetabek) untuk berbelanja.

Sosok Tubagus Fiki Chikara Satari, menjadi salah satu pemain penting dalam industri clothing dan distro di Bandung. Ia menunjukkan eksistensinya dalam ketatnya persaingan bisnis distro di Bandung dengan mengasah kreatifitsnya melalui bendera usaha Airplane System Clothing.

Fiki merintis usaha distro ini sejak1998 membuka distro Airplane. Awalnya, ia membuka usahanya tanpa disertai modal yang besar. Saat membuka distro Airplane di bawah bendera CV Arrasy Stylisindo Aesthetic, cuma ada modal sekitar Rp300 juta. “Suka dukanya cukup panjang. Poinnya adalah motivasi utama saya adalah ingin keren. Sehingga saya terpikir membuka bisnis yang bisa membuat kita lebih keren.

Seiring perjanan waktu, bisnis distro Fiki semakin berkembang pesat. Ia mengakui sempat memiliki penghasilan Rp1 miliar dalam sebulan. Padahal saat itu dirinya masih berstatus lajang.

kisah sukses, pengusaha sukses, miliarder bandung, pengusaha distroFiki Chikara Satari kemudian mulai membuka toko dan outlet berjalan dengan nama Airbus One (Fashion Mobile Store) tahun 2006 lalu. Bus ini dirancang khusus untuk memajang aneka produk airplane, untuk melakukan jemput bola pembeli di beberapa SMA di bandung. Kalau jam sekolah usai, Airbus One mangkal di Jl Sultan Agung, Bandung. Hasilnya ampuh, Fiki mengaku, Airbus One menjadi senjata penetrasi pasar bagi usahanya dan membentuk imageyang kuat di pasar.

Distro Airplane yang dibesut Fiki kini berbiak menjadi tiga gerai di Bandung. Airplane juga memasok produk ke 94 distro di Indonesia. Strategi Airpalne dalam melakukan penetrasi pasar cukup uni. Fiki menerapkan konsep season untuk desain produknya. Setiap season mengusung tema yang berbeda sebagai senjata untuk membedakan Airplane dengan distro lainnya. Setahun dibagi menjadi tiga season, yakni awal tahun, lebaran/liburan sekolah, akhir tahun. Tema desain produk disesuaikan dengan tren mode yang ada. Jenis produknya beragam, ada t-shirt, jaket, kemeja, celana, aksesori, rompi, topi dan sepatu dengan harga mulai Rp 50-300 ribu per piece yang ditujukan untuk segmen anak muda usia 17-25 tahun. Tiap bulan diluncurkan 60 desain baru. Supaya eksklusivitas terjaga, tiap desain hanya diproduksi 200 piecesuntuk disebar ke gerai milik sendiri atai dijual ke seluruh jaringan di sekitar 60 kota di Tanah air.

Bagi Fiki, ada tiga kata kunci dalam mengembangkan bisnisnya. Pertama adalah mempersonalisasikan desain produknya dengan customer/konsumen. Menurutnya, konsumen sebetulnya awam desain. Namun jika dirinya mampu menghasilkan beragam produk berbeda yang merepresentasikan diri dari masing-masing konsumennya.

“Kedua, bisa mentranslate desain produk kita. Ketiga, harus ada cerita dalam setiap produk yang kita hasilkan. Misalkan, ada baju yang melambangkan perjuangan para buruh di Afrika, akan dicari oleh konsumen yang mencari barang dengan cerita tersebut. Ini yang membedakan setiap produk yang kita hasilka. Orang akan mau beli produk kita kalau ada ceritanya,” tutur Fiki.

Namun Fiki mengakui, keberlangsungan bisnisnya tidak selalu mulus tanpa hambatan. Dalam beberapa tahun terakhir, kendala pembajakan juga terjadi pada produk-produk yang ia hasilkan.  Namun, Fiki telah menyiapkan sejumlah amunisi untuk menghadapinya. Caranya dengan meningkatkan akselerasi update design tiap bulan, memperbanyak detail aksesori produk, serta memperbanyak kegiatan off-air campaign untuk terus memperkuat image orisinalitas.

“Saya juga harus mendapat hambatan dari maraknya pembajakan. Belum lagi perubahan perilaku belanja dengan semakin berkembangnya fenomena belanja online,” tambah Fiki.

Selain Airplane System Clothing, Fiki juga duduk sebagai Chairman dari PT Idealog Komunikasi Kreatif. “Ini lebih agency strategi, analisa, dan maintenance via digital,” tutup Dosen Fakultas Ekonomi dari Universitas Padjajaran, Bandung tersebut.

Perlu diketahui, Fiki juga menjabat sebagai Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF). Fiki terpilih menjadi Ketua BCCF periode 2013-2017, seusai pemilihan Ketua BCCF pada Rapat Umum Anggota (RAU) yang dihadiri 34 pendiri dan anggota BCCF di Hotel Sawunggaling Jalan Tamansari Kota Bandung, Sabtu (26/1/2013). Fiki menggantikan Ridwan Kamil (kini Walikota Bandung, red) yang habis masa jabatannya pada akhir tahun 2012 lalu.

BCCF bukan hanya sebagai kumpulan orang-orang atau komunitas kreatif Kota Bandung saja, namun bagaimana sinergi antara komunitas dan orang-orang kreatif ini bisa menghasilkan solusi bagi masalah-masalah yang muncul di Kota Bandung. (Sumber artikel dicopy dari Suara.com)

Kamis, 20 Oktober 2016

Kisah Sukses : Tukang Sapu yang Sukses menjadi Pengusaha

Tri Sumono adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki berbagai usaha yaitu peternakan, perkebunan jahe, pertanian padi dan masih banyak lagi. Alangkah hebatnya orang seperti Tri Sumono yang hanya seorang tukang sapu, sekarang menjadi pengusaha sukses, mempunyai pendapatan per bulan hingga ratusan juta. Pengusaha ini dulunya adalah seorang tukang sapu. Tri Sumono begitu nama aslinya. Seorang pria kelahiran Gunung Kidul 7 Mei 1973 ini sekarang menjadi pengusaha sukses dengan omset ratusan juta rupiah tiap bulannya. Salut dan kagum dengan perjuangannya demi menggapai mimpi,  CV 3 Jaya yang dirintisnya, serta usaha lain seperti peternakan burung, jahe dan pertanian padi, dan masih banyak lagi membuat omzet yang diterima Pak Tri saat ini mencapai lebih dari Rp 500 juta per bulan.

Pengusaha Sukses yang satu ini dulunya adalah seorang tukang sapu. Tri Sumono nama aslinya. Seorang pria kelahiran Gunung Kidul 7 Mei 1973 dan ia hanyalah seorang lulusan SMA tanpa keahlian.  Pada tahun 1993 ia nekad merantau ke Kota Jakarta meskipun hanya berbekal tas berisi kaos dan ijazah SMA yang baru diperolehnya. Sesampai di Jakarta Tri Sumono mulai mencari pekerjaan apa saja tanpa memilih-milih. Hal ini ia lakukan untuk bertahan hidup.

Pekerjaan pertama yang ia dapat adalah menjadi buruh bangunan di Ciledug – Jakarta Selatan. Selang beberapa bulan ia akhirnya dapat tawaran untuk jadi tukang sapu di sebuah kantor di Palmerah – Jakarta Barat.
Kisah Sukses : Tukang Sapu yang Sukses menjadi Pengusaha


Tawaran untuk jadi tukang sapu langsung diambilnya tanpa pikir panjang. Dengan anggapan bahwa menjadi tukang sapu akan lebih mudah dibanding jadi kuli bangunan. Dari tukang sapu kemudian diangkat menjadi office boy. Hal ini ia dapat lantaran kinerjanya yang sangat baik.

Dari office boy, ia kembali mendapat tawaran menjadi tenaga pemasar hingga karirnya menajak sampai menjadi penanggung jawab gudang.

Selama bekerja di kantor, Tri Sumono juga coba-coba mencari penghasilan tambahan. Pada saat libur kantor atau setiap hari Sabtu dan minggu ia berjualan pernak pernik aksesori seperti jepit rambut, kalung dan lain-lain di Stadion Gelora Bung Karno. Usahanya ini ia lakoni selama 4 tahun dengan modal 100 ribu rupiah.

Dari pengalaman jualan ini kemudian ia berpikir, bahwa usaha sendiri ternyata lebih menjanjikan daripada jadi karyawan dengan gaji pas-pasan. Pada tahun 1997 ia nekad mundur dari pekerjaan kantor dan menekuni jualan aksesorinya hingga memiliki kios di Mall Graha Cijantung.

Tahun 1999, ia membeli rumah di Perumahan Pondok Ungu Bekasi Utara hasil dari penjualan kios di Mall Graha Cijantung karena ditawar orang dengan harga mahal. Di tempat baru inilah, perjalanan bisnis Tri dimulai.

Saat itu, ia langsung membuka toko sembako. Menurutnya bisnis ini lumayan menjanjikan karena ke depan, Perumahan Pondok Ungu tempatnya bermukim itu bakal berkembang dan menjadi ramai.

Pada saat itu Pondok Ungu masih terbilang sepi. Demi meramaikan kawasan tempatnya tinggal, ia kemudian membangun sebanyak 10 rumah kontrakan yang di pasarkan dengan harga miring. Rumah kontrakan ini kebanyakan disewa oleh pedagang keliling, seperti penjual bakso,dan gorengan.

Cerdas sekali Tri Sumono, selain mendapat hasil dari rumah kontrakan, para pedagang itu juga meramaikan toko sembako miliknya. Melihat took sembako Tri mulai ramai, banyak warga di luar tempat tinggalnya mulai mengenal tokonya.

Seiring waktu berjalan, naluri usahanya semakin menjadi. Pada tahun 2006, Tri mulai tertarik dengan bisnis pembuatan sari kelapa. Dari beberapa kabar yang diperolehnya diketahui bahwa untuk membuat sari kelapa adalah proses dari fermentasi air kelapa murni dengan bantuan bakteri Acetobacter xylium.

Tapi Tri tidak patah semangat, ia terus belajar bagaimana untuk menghasilkan sari kelapa yang baik dan berkualitas standar yang ditetapkan perusahaan. Seorang dosen di IPB ditemuinya dengan maksud untuk belajar fermentasi. Sang dosen awalnya enggan mengajari mengingat Tri yang hanya lulusan SMA pasti akan kesulitan menerima penjelasannya.

Keseriusan Tri untuk belajar dan kecerdikannya merayu, Pak dosen pun akhirnya mau mengajarinya selama dua bulan. Setelah banyak mengantongi ilmu, Tri pun memulai kembali produksi sari kelapanya.

Setelah produk sari kelapanya lumayan memuaskan, ia langsung memproduksi 10.000 nampan dan bisa lolos ke perusahaan. Produksi pertamanya ini senilai Rp 70 juta. Sekarang terbalik, beberapa perusahaan antri mengambil olahan sari kelapanya. Nah … sejak saat itulah perjalanan bisnis Tri Sumono terus maju dan berkembang.

Melalui Perusahaannya CV 3 Jaya, Tri Sumono mengelola banyak cabang usaha, antara lain, produksi kopi jahe sachet merek Hootri, toko sembako, peternakan burung, serta pertanian padi dan jahe. Bisnis lainnya, penyediaan jasa pengadaan alat tulis kantor (ATK) ke berbagai perusahaan, serta menjadi franchise produk Ice Cream Campina.  (Sumber Artikel dari ciputrauceo.net)